Lorong itu tidak panjang.
Namun terasa panjang saat ku lihat dari kamera ponselku.
Tidak terlalu gelap, namun terlihat gelap dalam layar lcdnya.
Lorong itu hanya sepi. Kadang satu dua orang melintas di dekatku, kadang mobil atau motor juga. Namun tetap terasa sepi. Terasa kosong, lorong panjang-di kameraku-, dan gelap-di layar lcdnya- ini.
Semilir angin malam menyentuh kulitku.
Di lorong yang panjang namun tidak panjang, gelap namun tidak gelap - tapi tetap sepi - ini aku merenung.
Terduduk merenung, sambil melihat layar lcd ponsel, kadang menengok ke botol kola yang sudah kosong, mendengar seseorang (atau sesuatu...) yang lewat, atau sejenak terpaku melihat ke lorong itu.
Akankah ini akan jadi salah satu tempatku kelak? Akankah ini akan kulalui setiap hariku nanti? Akankah akan kuhabiskan waktuku menjadi penghuninya? Akankah? Mimpi buruk ataukah indah? Mana mungkin lorong yang terlihat panjang dan gelap adalah mimpi indah? Akankah, apakah, mungkinkah?
Tak tahu aku. Yang ingin aku lakukan saat ini, detik ini, hanya melihat ke arah lorong. Sambil ingin lepas dari segalanya. Sambil ingin bebas dari keterdudukanku di sini.
Lorong itu tidak panjang. Namun terlihat panjang di kamera ponselku. Tidak terlalu gelap, namun gelap dalam layar lcdnya. Sepi namun beberapa lalu lalang dekatku.
Ah, mungkin semua hanya fantasiku saja.
Download this article here
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Tampilkan postingan dengan label Pasal - Pasal dalam Hidupku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasal - Pasal dalam Hidupku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
Doa Seorang Facebooker
DOA SEORANG FACEBOOKER
One prayer of a facebooker who tries to search the world.
Bahwa aku memiliki sedikit teman yang mengenalku sebagai aku...
yang tidak sempurna dan penuh dengan kecacatan...
Bahwa aku mendapatkan perhatian nyata dari orang – orang di sekitarku...
Bahwa aku memiliki sahabat – sahabat yang peduli padaku...
Bahwa Engkaulah Tuhannya dan bukan aku...
One prayer of a facebooker who tries to search the world.
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pasti aku akan memiliki banyak teman...
Beragam manusia akan berteman denganku dalam
hitungan detik...
Klik add as friend, dan dia langsung menjadi temanku...
Mungkin teman terbaik...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pasti aku akan sedemikian diperhatikan...
Ribuan komentar kudapat saat aku berkata
sesuatu...
Banyak jempol akan teracung bahkan untuk hal -
hal kecil yang kulakukan...
Hal - hal yang biasa menjadi luar biasa...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pasti aku tidak akan merasa tersakiti...
Komentar pedas bisa ku remove dengan mudah...
Teman yang nakal dapat kusingkirkan, cukup aku
klik tombol unfriend di pojok kiri bawah...
Aku tidak akan
mengenangnya lagi... terhapus dari memoriku...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pasti tidak ada Engkau, Tuhanku...
Karena akulah Tuhan!
Ya, akulah yang menciptakan dan memiliki duniaku
sendiri!
Ya, akulah Tuhan!
Tapi...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Teman – teman dan sahabat - sahabatku semu...
Mereka tak akan mengenali aku yang
aku...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pasti banyak yang membohongiku...
Jari semua orang hanyalah jempol...
Semua orang hanya bisa Like sesuatu...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Aku sendirian...
Tanpa teman menjahiliku... mengkritikku... memarahiku...
Diriku menjadi kecil tanpa
mereka...
Andaikan dunia ini adalah Facebook... oh
Tuhanku.
Pastilah dunia menjadi tidak berwarna...
Semua seturut kemauanku sendiri...
Kacau balau dan tak bernyawa...
Andaikan dunia ini adalah facebook... oh
Tuhanku.
Semua bisa diterka... pasti membosankan...
Pasti tidak hidup... pasti tidak dunia...
Karena itu,
Aku bersyukur... ya Tuhanku...
Aku bersyukur... ya Tuhanku...
Bahwa dunia ini bukan sekedar Facebook...
Bahwa aku memiliki sedikit teman yang mengenalku sebagai aku...
yang tidak sempurna dan penuh dengan kecacatan...
Bahwa aku mendapatkan perhatian nyata dari orang – orang di sekitarku...
bahkan yang mengacungkan jari tengah kepadaku...
Bahwa aku memiliki sahabat – sahabat yang peduli padaku...
mau berkelahi dan menyakiti hatiku...
Bahwa Engkaulah Tuhannya dan bukan aku...
dan bahwa aku adalah bagian dunia ciptaan-Mu,
dan bahwa aku adalah nyata pribadi kesayangan-Mu...
Karena itu aku bersyukur...
Dunia ini bukan sekedar Facebook...
Amin.
Yogyakarta, 19/10/2011, 22:14
Dalam persiapan praktikum Mikrobiologi Blok XVII CMV Antigenemia Assay.
Download this article here
dan bahwa aku adalah nyata pribadi kesayangan-Mu...
Karena itu aku bersyukur...
Dunia ini bukan sekedar Facebook...
Amin.
Yogyakarta, 19/10/2011, 22:14
Dalam persiapan praktikum Mikrobiologi Blok XVII CMV Antigenemia Assay.
Download this article here
Dipanggil Untuk Hidup
DIPANGGIL UNTUK HIDUP
Sebuah Refleksi Kitab Yeremia Pasal 29 Bagian Pertama
"Jangan dekat - dekat sama Tuhan lho, nanti dipanggil!" Terlintas di pikiran saya kalimat yang diucapkan salah satu sahabat kuliah saya beberapa tahun yang lalu. Kami sedang bercanda tawa sekaligus bersantai akhir pekan di kafetaria sebuah pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Hitung - hitung melepas penat setelah seminggu berkuliah. Tersenyum saya mengingat masa - masa indah kala itu.
Saya kembali tersenyum saat kalimat tersebut terdengar lagi di telinga saya. Apa ya makna dari kalimat tadi?
Nanti dipanggil... Tiap orang akan memiliki intepretasi yang berbeda terhadap frasa ini. Dipanggil dapat diartikan dengan "meninggal dunia", mati. Saya rasa (baru saya rasa) saya tidak terlalu takut untuk mati.
Berani mati... Ah, sudah biasa. Namun bagaimana jika 'dipanggil Tuhan' adalah dipanggil... untuk hidup?
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia 29 : 11
Yeremia pasal 29 berisi substansi dari dua surat yang dikirimkan nabi Yeremia kepada umat Israel di pembuangan di Babel.
Surat pertama, mencakup ayat 1 - 19 merupakan surat penguatan batin untuk orang Israel di pembuangan. Yeremia mendorong umat Israel agar sabar dan tabah menghadapi penderitaan ini, karena uhan tidak pernah meninggalkan mereka. Dari bagian ini, muncullah satu bagian ayat yang menjadi sangat terkenal dan umumnya menjadi ayat hafalan, yaitu ayat 11 yang berbunyi seperti di atas. Surat kedua secara umum merupakan lanjutan dari surat pertama mengenai nabi - nabi palsu yang menyebarkan dusta. Surat ini merupakan peringatan akan hukuman Tuhan kepada nabi - nabi tersebut dan mendorong umat agar tidak jatuh pada penyesatan mereka.
Berkaitan dengan pembahasan ini, kita akan memberi perhatian kita kepada bagian pertama pasal 29.
Keadaan bangsa Israel di pembuangan sangat memprihatinkan. Tidak hanya karena harga diri mereka yang jatuh karena kala perang dan dibuang, umat Israel memiliki pergumulan yang besar pula mengenai Tuhan dan janji-Nya. Mereka menjadi sangat putus asa karena merasa Tuhan telah meinggalkan mereka dan membiarkan mereka menderita. Mereka merasa sudah mati, tidak ada harapan untuk keluar dari keadaan ini.
Keadaan umat Israel saat itu agaknya tidak jauh berbeda dari keadaan orang zaman sekarang. Saya sendiri merasakannya. (beberapa mungkin tahu pergumulan saya, no? Lol.) Seiring dengan perkembangan dunia yang sedemikian cepat, banyak orang cenderung menjadi mudah tertekan dengan kegiatan dan lingkungan sekitar mereka. Tidak adanya kesempatan undur sejenak dengan alasan tuntutan pekerjaan membuat tekanan yang semakin besar dalam pribadi masing - masing orang. Lalu anda bertanya, "Lha kalau orang yang santai, hidupnya enak, ngangur gimana?"
Faktanya, orang -orang yang itupun mengalami tekanan yang tidak jauh berbeda dengan keadaan yang sebelumnya. Ini terbukti dengan banyaknya orang sukses yang justru terikat pada narkoba, pergaulan bebas, alkohol, dsb. Manusia saat ini seperti selalu mencari pelarian di tengah kesibukan atau bahkan kekosongannya masing - masing. Kita telah terbuang dalam gunung tuntutan pekerjaan dan aktivitas atau juga dalamnya palung kekosongan karena tidak ada yang dapat dilakukan. Kita diperbudak oleh kekuatan yang seolah kita tak ketahui dari mana datangnya. Padahal, kita diperbudak oleh diri kita sendiri: tuntutan dan sasaran - sasaran kita sendiri, kediaman kita sendiri.
Tujuan hidup kita menjadi tidak jelas dan ketika kita mencoba mencari pertolongan kepada orang - orang di sekitar kita, tidak ada yang dapat memuaskan kita. Di saat semua kemudian menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya, kepalsuan dan kemunafikan, kita semakin tertekan dan masuk lebih dalam ke pembuangan.
Kesuksesan yang seharusnya menjadi puncak kepuasan justru menjadi puncak keterasingan yang sebenarnya. "Berarti anda mendorong saya tidak sukses?" Tanya anda kepada saya. Tentu tidak, saya tidak pernah berkata demikian. Saya hanya menekankan bahwa kesuksesan pribadi tidak menjamin kedamaian hati. Kesusksesan pribadi seringkali justru membuat kita sombong atau bahkan iri bila melihat orang lain berbuat lebih dari kita. Di saat semua itu terjadi akhirnya kita bertanya: Tuhan di mana Engkau?
Tuhan tidak pernah jauh dari kita. Seperti firman Tuhan dalam Yeremia 29 tersebut, kita perlu kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang sebenarnya selalu beserta kita. Di tengah pekerjaan, aktivitas, dan prestasi kita, Tuhan senantiasa beserta kita, entah kita ingat atau tidak. Semua sebenarnya telah ada dalam rencana Tuhan. Ketika kita mulai masuk kepada pembuangan itu, kita sebenarnya didorong untuk menjadi lebih kuat. Kita didorong pula untuk bisa mengandalkan kekuatan Tuhan dan bukan kekuatan kita.
Dia memanggil kita untuk hidup dalam Dia untuk mewartakan Nama-Nya di dunia melalui pergumulan kita, seperti Dia memakai pergumulan orang Israel menjadi bagian dari sebuah Alkitab.
Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus membagikan kepada kita bahwa beliau juga memiliki "duri dalam daging" yang menghambat pelayanannya. Beliau bahkan telah memohon kepada Tuhan sampai 3 kali agar Tuhan mencabut duri dalam daging itu. Namun firman Tuhan justru berkata lain, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor 12:9)
Dalam kelemahan, kuasa-Nya menjadi sempurna. Karena dalam kelemahan kita, kita dipanggil untuk hidup sesuai yang Dia kehendaki. Jika kita kuat, kita akan hidup seperti yang kita mau, seenaknya. Namun jika kita lemah, kita perlu arahan. Dan seperti bapa sayang kepada anaknya, Tuhan selalu ingin kita mengikuti arahan-Nya, karena memang itu yang terbaik untuk kita.
Di tengah kelemahan - kelemahan kita, kita menjadi mati secara rohani. Saat kita mau 'mati' dan mengikut Dia, titik balik pelayanan kita di dunia akan kita alami. Dari 'untuk prestasi' menjadi 'untuk Tuhan'. Dari 'untuk karir' menjadi 'untuk Tuhan'. Bahkan dari 'untuk orang tua' menjadi 'untuk Tuhan'. Dan yang paling penting, dari 'untuk diri kita sendiri' menjadi 'untuk Tuhan'. Siapkah kita dipanggil-Nya? Bukan hanya untuk mati dan bersama Dia nanti di sorga, tapi untuk hidup dan mewartakan Nama-Nya dalam pelayanan kita di dunia?
"Jangan dekat - dekat sama Tuhan lho, nanti dipanggil!" Tidak perlu dekat jika Tuhan memang berkehendak memanggil kita ke Sorga. Saat ini, sementara kita masih hidup, akan lebih bermakna jika kita mau menjadi saksi-Nya, mau berkarya untuk-Nya, menerima panggilan-Nya untuk hidup. Tentu, kebahagiaan dan sukacita saat Tuhan memanggil kita ke Sorga kelak akan semakin penuh dan utuh. Mari kita bersama - sama mengajukan diri kepada Tuhan, mendekatkan diri kepada-Nya supaya kita boleh dipanggil menjadi saksi-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Download here
Download here
Minggu, 27 September 2009
Shadow and Persona: A Reflection
Shadow is the true self. Is that true?
Apa "bayangan" itu?
Mengapa di P4 dia mengidentikkan diri dengan "true self" atau "diri yang sejati"?
Game Persona memiliki muatan filosofis dan pendidikan psikologis yang dalam.
Saya memainkan P3 dan P4,
keduanya (atau mungkin juga dari sekuel2nya) memiliki tokoh "shadow" / bayangan di dalamnya.
di P4, bayangan mengidentikkan dirinya sebagai "diri yang sejati"
Penerimaan yang tidak benar bahkan penolakan terhadapnya memicu kemarahan dan kekuatan yang mengerikan.
__________________________
Apa "bayangan" itu?
Mengapa di P4 dia mengidentikkan diri dengan "true self" atau "diri yang sejati"?
Game Persona memiliki muatan filosofis dan pendidikan psikologis yang dalam.
Saya memainkan P3 dan P4,
keduanya (atau mungkin juga dari sekuel2nya) memiliki tokoh "shadow" / bayangan di dalamnya.
di P4, bayangan mengidentikkan dirinya sebagai "diri yang sejati"
Penerimaan yang tidak benar bahkan penolakan terhadapnya memicu kemarahan dan kekuatan yang mengerikan.
__________________________
Minggu, 06 September 2009
Bintang tanpa Nama (Part 2)
Bintang pulang ke kosnya. Ada yang salah dengan nama di pintu itu.
Sepertinya itu bukan namanya.
Bintang ingin memperbaikinya namun dia terhenti.
Beberapa pekerjaan laporan berkaitan dengan modelling masih harus ia kerjakan.
Berlalu ia ke dalam kamar.
Sepertinya itu bukan namanya.
Bintang ingin memperbaikinya namun dia terhenti.
Beberapa pekerjaan laporan berkaitan dengan modelling masih harus ia kerjakan.
Berlalu ia ke dalam kamar.
Rabu, 26 Agustus 2009
Sebuah Penantian: Dimulai
Malam melarut...
Saat jariku lanjutkan tulisnya. Mengalir huruf - huruf merangkai kata...
Mataku terpaku kertas kuning bercoret biru...
Pikiranku melayang seiring waktu dan suara gemuruh jalanan melenyap...
Beribu apa timbul di anganku
Saat jariku lanjutkan tulisnya. Mengalir huruf - huruf merangkai kata...
Mataku terpaku kertas kuning bercoret biru...
Pikiranku melayang seiring waktu dan suara gemuruh jalanan melenyap...
Beribu apa timbul di anganku
Senin, 10 Agustus 2009
Bintang tanpa Nama (Part 1)
Sang Bintang berdiri di depan pintu kamar kosnya yang kecil.
Ada yang salah dengan nama yang tertempel di pintu itu.
Seperti namanya tapi juga seperti bukan.
Teringatlah ia akan petualangannya sebagai Bintang.
__________________________
Ada yang salah dengan nama yang tertempel di pintu itu.
Seperti namanya tapi juga seperti bukan.
Teringatlah ia akan petualangannya sebagai Bintang.
__________________________
Minggu, 09 Agustus 2009
Sebuah Penantian
Waktu menjelang malam di kalaku duduk di depan PC.
Jari - jariku berpetualang diantara tuts - tuts keyboard,
seiring sejalan dengan pemikiran dan ide -ide yang mengalir secara spontan di gyrus dan sulcus otakku.
Mataku terpaku pada kontras mejiku-hibiniu di monitor setengah redup.
Aku online, lagi...
Jari - jariku berpetualang diantara tuts - tuts keyboard,
seiring sejalan dengan pemikiran dan ide -ide yang mengalir secara spontan di gyrus dan sulcus otakku.
Mataku terpaku pada kontras mejiku-hibiniu di monitor setengah redup.
Aku online, lagi...
Rabu, 13 Mei 2009
Makna Sebuah Panggilan
Aku telah diterima... Ini panggilanku...
TUHAN, mampukan diriku...
TUHAN, mampukan diriku...
3 hari ini saya mengikuti seleksi untuk masuk ke sekolah teologi.
Seleksi ini diadakan oleh Komisi Penggalangan Pendeta / KPP
GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah.
Magelang, tepatnya di Wisma Sejahtera,
lah yang menjadi tempat seleksi diadakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

Post ur Blog Here!